By : Green

[Sekolah, 30 September 2024]

“Hei! Sebentar lagi oktober. Kau ikut halloween, kan? Sudah mempersiapkan kostumnya?” Npc-1. “Kawan, ini bahkan masih September. Kau kira aku sudah menyiapkan sesuatu? Paling aku akan sewa kostumnya saat H-1.” Npc-2. “As expected from you.” Npc-1. “Mengapa kau bertanya pada pemalas seperti dia? Seharusnya kau bertanya padaku, si paling antusias. Penasaran kostum apa yang akan aku pakai?” Npc-3. “Maaf kawan, aku tidak bertanya padamu.” Npc-1. “Lagipula mengapa kita ikut Halloween? Kita kan atheist.” Npc-4.

Halloween? Oh, sebentar lagi Oktober ya? Aku bahkan tidak menyadarinya. Sekolah pasti akan mengadakan pesta kostum. Kostum apa yang harus aku pakai? Apa ini wajib? Ah, aku terlalu malas untuk hal seperti ini. Mungkin berperan menjadi diri sendiri bukanlah hal yang buruk.

“Biar kutebak. Kau pasti berpikir untuk memakai seragam sekolah pada saat pesta kostum nanti, benar bukan [ ]?” Npc-5. “Tentu saja [ ] akan berpikir seperti itu. Npc-2 bukan satu-satunya pemalas di kelas kita. Yah, kurasa [ ] bahkan lebih parah daripada Npc-2.” Npc-6. “Dengar [ ], ini adalah kegiatan wajib sekolah. Kau telah banyak melakukan pelanggaran. Satu pelanggaran lagi dan kau mungkin akan benar-benar dikeluarkan. Aku tahu kau tidak peduli, tapi kami peduli. Sekolah ini memiliki sedikit murid. Tolong jangan meninggalkan kami di sini, oke?” Npc-7. “Oke oke. Kenapa kau lakukan hari ini kalau kau bisa melakukannya besok, bukan begitu? Akan aku pikirkan besok.” [ ]. “Kata-katamu tidak terdengar meyakinkan sama sekali, kau tahu.” Npc-7. Yah, mau bagaimana lagi bukan? “Tak apa, kau pasti akan memikirkan hal itu besok.” Npc-7

Hm??


[Sekolah, 1 Oktober 2024]

Hm, apa ini? Kostum? Semua orang sudah memakainya? Bukankah masih ada sebulan lagi? Jangan bilang kemarin itu 30 Oktober? Tidak, pesta kostum di sekolah ini diadakan saat malam hari. Lagipula sekarang masih termasuk jam belajar mengajar, kita seharusnya masih memakai seragam. Selain itu, kostum mereka terlalu realistik. Sepertinya sesuatu yang gila akan segera terjadi.

“Kau datang cukup awal hari ini. Apa kau benar si pemalas [ ] yang aku kenal?” Wraith. “Aku tak percaya ini. Apa matahari terbit dari selatan?” Zombie. “Barat. Ungkapan yang benar itu barat, Zombie.” Vampire. Itu benar, tidak mungkin aku serajin ini. Ada alasan mengapa aku datang lebih awal daripada biasanya. Npc-7, dia menarikku ke sini. “Entahlah, mungkin aku orang yang rajin sekarang.” [ ]. “Orang?” Wraith, Zombie dan Vampire saling memandang, terdiam. “Kau bercanda, kan? Masih terlalu cepat 100 tahun sebelum kau bisa menjadi rajin.” Wraith.

Mereka bersikap aneh. Apa mereka ini monster sungguhan dan bukan manusia?

“Hah? Apa aku baru saja melihat [ ]? Dia datang lebih dulu daripada kita? Apa matahari terbit dari mars?” Ghoul masuk kelas, bersama dengan Witch dan Lich. “Kalian membuatku melupakan ungkapan originalnya” Vampire menepuk jidatnya. “Aku pasti sedang bermimpi. Lich, coba kutuk aku.” Witch. “Haha, dengan senang hati.” Lich. “Jika kau berani mengutukku, akan kuremukkan semua tulangmu itu.” Witch. “Cih, dasar plin plan.” Lich “Omong-omong, dimana Demon? Bukankah kalian biasa datang bersamanya?” Zombie. “Entahlah, aku tidak bisa menemukannya dimana pun. Mungkin dia masih bersantai dan bermain di luar sana.” Ghoul mengangkat bahu “Sepertinya kau butuh kaca. Kau pikir Demon sama sepertimu? Hm, jika Demon tidak datang, artinya dia punya sesuatu untuk dilakukan. Lupakan dia, bagaimana dengan tugasmu? Kau tidak melupakannya, kan? Hehe, aku menantikan bagaimana Mr. Baphomet akan memarahimu.” Witch tersenyum kejam.

Pupil mata Ghoul melebar, panik, “Ah, tidak! Mengapa kau baru mengatakan hal sepenting ini sekarang? Pinjamkan aku tugasmu sebelum si gila itu membunuhku!”.

[Bel berbunyi]

“Sayang sekali kawan. Tenanglah, aku pasti akan mengenangmu selamanya di dalam hatiku.” Lich memejamkan mata, seperti sedang berduka. “Hoi, Zombie! Kau juga belum mengerjakannya, kan? Kan!?” Ghoul. “...” “Mengapa kau terdiam? Kau tidak mengkhianatiku, kan?” Ghoul. “Vampire memaksaku mengerjakannya kemarin, dan aku lupa memberitahumu.” Zombie memalingkan matanya. “F*CK!” Ghoul. “Bel sudah berbunyi dan kalian masih mengobrol dengan santainya? Cepat kembali ke tempat duduk kalian! Oh, jangan lupa untuk mengumpulkan tugas kalian di meja guru.” makhluk lain masuk. Itu Baphomet, guru di kelas ini.

Hal-hal menjadi semakin di luar nalar. Selain itu, apa hanya aku yang melihatnya berdiri di pojok kelas? Npc-7, satu-satunya manusia yang aku lihat di sini. Yah, dengan semua makhluk yang ada di sini, aku yakin Npc-7 bukan manusia. Begitu rupanya, dia Demon.

“Nampaknya kau sangat sibuk. Kau bahkan melupakan tugas yang aku berikan padamu, bukan begitu Ghoul?” Mr. Baphomet. “A-aku sudah selesai mengerjakannya kemarin. N-namun, saudaraku lapar, jadi dia memakannya tanpa sengaja, haha.” Ghoul memalingkan mata. “Alasan yang cukup lucu. Kenapa kau tidak menggunakan tanganmu saja sebagai bahan makanan?” Mr. Baphomet. “Hm? Kau belum mengerjakan tugasmu, [ ]? Kamu biasanya sangat antusias pada tugas semacam ini. Yah, apapun itu, Ghoul dan [ ], kalian berdua majulah ke depan!” Mr. Baphomet.


Sore hari. Setelah sehari penuh berada di kelas ini, aku menjadi yakin. Mereka bukan manusia. Anatomi tubuh, sikap, bahkan pola pikir mereka benar-benar berbeda dari manusia pada umumnya. Tapi bukan itu hal yang paling penting saat ini, melainkan Npc-7, maksudku Demon. Dia hanya berdiri di pojok kelas seharian, dengan senyum menjijikkan di wajahnya. Namun, sekarang tidak lagi. Dia menghampiriku.

“Apa kau bersenang-senang hari ini?” Demon, masih dengan senyum memuakkannya. “Aku akan bersenang-senang jika kau memberitahuku apa yang sedang terjadi disini.” [ ].

“Aku hanya mengembalikan hal-hal ke sebagaimana mestinya.” Demon. “...” [ ].3 “Mengapa kau sangat penasaran?” Demon. “Bukankah itu hal yang wajar?” [ ].

Hening. Demon hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka mulut dan berkata,

“Apa kau tahu siapa namamu?”. “Bukankah kau tau aku tidak memiliki nama?” [ ]. “Sungguh bodoh, kau bahkan tidak tahu namamu sendiri.” Demon. “...”. Kata-katanya tidak masuk akal. Apa yang dibicarakan si gila ini? “The Father of Demon, The Fallen Tempter, The Dissident of God, Azazil. Itulah namamu.” “Kamu, adalah bagian dari kami. ” ? ? ? Aku terdiam, kehabisan kata-kata. Aku tidak tahu kenapa, tapi bibirku naik, berubah menjadi seringai. Bibirku terbuka, meluapkan isi pikiranku. “WHAT THE F*CK??” [Azazil].