by: Stefanus Anjas Mahendra
Cahaya pagi menembus tirai dan menyinari mataku yang masih tertutup dan enggan untuk terbuka. Walaupun hatiku berkata kepadaku untuk tetap berada di tempat tidur, namun aku mau tidak mau harus segera bangun dan mempersiapkan diriku untuk hari lain yang penuh dengan warna abu-abu bagiku. Aku tetap harus masuk bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hariku dan... meraih kembali memori yang telah menghilang dari kepalaku. Dengan aliran air hangat yang mengucur dari shower kamar mandi, aku membasuh diriku dan membersihkannya dari kotoran, namun tidak dari perasaan yang menyelimutiku. Walaupun aku mengenakan pakaian kantor yang telah kupersiapkan tadi malam, tidak cukup untuk menutupi rentannya.
Dengan sebuah roti selai di tangan kanan dan tas kantor di tangan kiri, aku mulai berjalan menuju stasiun kereta yang tidak jauh dari apartemenku. Setelah menunggu beberapa menit dan perjalanan sekitar 10 menit, aku akhirnya tiba di kantor tempat kerjaku dan segera membuka laptop yang sudah cukup lama menemani diriku semenjak aku duduk di bangku SMA dan hingga aku bekerja saat ini. Tidak ada hal yang menarik pada hari itu, hanya kebisingan dan ocehan dari bos maupun teman kerjaku yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku. Aku sudah terbiasa dengan semua hal tersebut dan lebih memilih untuk berfokus kepada pekerjaanku agar dapat selesai secepatnya. Ditemani dengan segelas kopi, roti yang kubeli di dekat stasiun dan headphone yang memutar ratusan lagu, aku berfokus kepada diriku sendiri dan pekerjaanku.
Tak terasa waktu sore telah tiba. Orang kantor pada umumnya pasti sudah mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah masing-masing, namun hal ini berbeda dengan di kantor tempatku bekerja. Disini, semua orang tetap berada di tempatnya masing-masing karena bos kami selalu saja memberikan kerja tambahan kepada salah satu dari kami secara acak. Beruntungnya, untuk kali ini aku dapat terbebas dari beban kerja tambahan dan dapat kembali ke apartemenku dengan aman. Aku segera mengemasi barang-barangku dan memulai perjalanan kembali ke apartemenku. Tak lama kemudian, aku tiba di stasiun terdekat dengan tempat kerjaku dan segera menaiki kereta yang menuju tempat dimana apartemenku berada.
Lautan yang gelap dan dingin telah lama menyelimuti tubuhku hingga saat ini. Tidak ada satupun tangan yang ingin meraih diriku dan menyelamatkan diriku dari penderitaan ini. Dinginnya lautan tersebut serasa menusuk seluruh bagian tubuhku dan memberiku rasa sakit dan kesepian yang tak pernah selesai. Aku merasa sendirian di dalam lautan dingin nan menyakitkan tersebut. Suatu memori tentang sosok yang memberikanku suatu cahaya hangat, turut terlarut dalam lautan biru. Sesosok perempuan samar yang selalu menghantui diriku setiap malam, semakin membuatku merasa tidak nyaman dengan diriku sendiri. Aku tidak dapat mengenalinya, maupun mengingatnya, semuanya samar-samar. Aku tidak tahu kapan mimpi ini akan berakhir menghantui diriku.
Pada perjalanan pulang kali ini, aku tidak cukup beruntung untuk mendapatkan tempat duduk dan harus berdiri dekat dengan pintu. Walaupun kakiku terasa pegal, perjalanan pulang tidaklah terlalu lama dan dapat kutahan sampai tiba di apartemenku. Sama seperti di kantor, tidak ada hal yang menarik selama perjalananku menaiki kereta api, hanya ada suara roda kereta dan penyiar pengumuman. Setiap orang disekitarku hanya berfokus kepada kepada dirinya sendiri atau handphone yang dipegangnya. Tidak ada satupun perbincangan atau interaksi terhadap satu sama lain, hanya keheningan. Tak lama kemudian, kereta yang kunaiki hampir tiba di stasiun tujuan yang kutuju. Saat kereta hampir berhenti, terdapat kereta lain yang juga baru saja berhenti dari arah yang berbeda. Pada saat itu, pikiranku langsung menjadi panas karena pasti banyak orang yang akan mengantri untuk keluar dari stasiun disaat yang bersamaan. Aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di peron stasiun sembari mencoba untuk beristirahat sejenak. Mataku yang sudah semakin berat memintaku untuk menutupnya dan aku memutuskan untuk tidur sementara waktu.
Tiba-tiba, suatu cahaya yang sering muncul di dalam mimpiku hadir dan menyentak diriku dari tidur sejenakku. Aku melihat jam dinding dan menyadari bahwa aku baru tertidur selama 2 menit. Tidak seperti biasanya, cahaya yang kulihat dalam mimpiku ini terasa sangat nyata dan seakan muncul dihadapanku. Cahaya dari kereta seharusnya tidak dapat muncul dalam mimpiku karena aku sudah beberapa kali tertidur di stasiun dan tidak pernah merasakan hal yang baru saja aku alami. Aku segera bangkit dan mencoba mencari darimana sumber cahaya yang muncul dari mimpiku. Tiba-tiba, aku melihat suatu cahaya di tengah kerumunan orang yang sedang akan keluar dari stasiun. Cahaya tersebut bukanlah suatu cahaya senter atau lampu di stasiun namun sesosok yang telah lama kunantikan dalam hidupku. Seorang gadis berambut pirang panjang yang mengenakan pakaian hitam dan krem serta menggunakan sepatu high heels memberikan hatiku perasaan yang telah lama hilang.
Aku mencoba untuk mengucek mataku untuk memastikan apakah hal yang kulihat merupakan ilusi semata atau merupakan suatu realita yang sedang terjadi. Aku masih tidak percaya bahwa sosok yang selalu terlihat samar-samar di dalam mimpiku sedang berada di tempat yang sama dengan diriku. Tanpa membuang waktu, aku bergegas untuk mengejar dirinya. Aku harus memaksa diriku untuk menembus kumpulan orang-orang yang berdesakan untuk keluar dari stasiun. Setelah bersusah payah untuk melewati kumpulan orang lain, aku akhirnya tiba di bagian luar dari stasiun. Sayangnya, aku sempat kehilangan pandangan dari gadis yang kuincar, hingga aku kembali melihatnya berjalan di pinggiran kota.
Dengan penuh harapan, aku segera melepas sepatu high heels yang kupakai dan segera berlari hanya dengan kaos kaki. Cuaca di sekitarku mulai menunjukan tanda-tanda hujan ketika gerimis mulai berjatuhan di tubuhku. Walaupun hujan mulai mengguyur kota, aku tetap tidak kenal menyerah demi mengejar gadis tersebut. Aku tidak mau melepaskan kesempatan ini setelah bertahun-tahun aku hanya bisa mengingatnya samar-samar dalam hatiku. Aku tidak ingin rasa hangat yang mencairkan dingin dalam hatiku ini terbuang sia-sia karena hal lain yang menggangguku.
Setelah langkah kakiku mulai membuatku lebih dekat pada dirinya, aku pun mencoba untuk memanggilnya. “Hey kamu, tunggu sebentar!” ucapku sembari mencoba untuk lebih mendekatinya. Gadis tersebut langsung berhenti dan menoleh kebelakang dan melihatku dengan wajah terkejut. “Umm, kamu memanggilku?” ucapnya dengan raut wajah yang nampak kebingungan. Aku kemudian berhenti sejenak untuk menatapnya. Tidak salah lagi, sosok gadis yang ada di depanku ini adalah sosok yang selalu menampakan dirinya di dalam mimpiku. Gadis inilah yang selalu memberikanku harapan untuk menemuinya suatu saat nanti. Dan disinilah, di waktu inilah, dimana aku dan dia akhirnya dapat bertemu kembali.
Dengan tarikan nafas untuk menenangkan diriku, aku kemudian berjalan maju mendekati dirinya. “Apakah... Apakah kau mengenaliku?” ucapku kepadanya. Mata birunya kemudian terbuka setelah mendengar pertanyaanku dan nampak tercengang mendengar pertanyaanku. Setelah beberapa detik berpikir, dirinya kemudian baru menjawab pertanyaanku. “Aku... Aku tidak pernah mengenalimu... Namun, aku merasa bahwa kita terhubung satu sama lain... Di dalam mimpi.”
Jawabannya atas pertanyaanku sudah lebih dari cukup untuk menyakinkan diriku bahwa dirinya merupakan sosok gadis yang selalu muncul di mimpiku. Aku kemudian bertanya lebih lanjut kepadanya untuk dapat mengkonfimrasi kecurigaanku. “Apakah... Namamu adalah Elia?” Gadis tersebut terkejut dan tidak menyangka bahwa aku dapat mengetahui namanya. “Ya... Namaku Minekawa Elia... Lantas... Apakah namamu Iris?”
“Ya, namaku adalah Iris. Kanazawa Iris”
Elia tidak dapat mempercayai bahwa sosok gadis yang muncul di mimpinya merupakan Iris yang juga memimpikan Elia dalam mimpinya. Iris kemudian mendekati Elia dan dengan lembut memegang telapak tangan dari Elia. “Sudah lama kita menantikan satu sama lain... Dan kini, kita dapat bertemu satu sama lain” ucap Iris dengan air mata yang mengalir turun dari matanya. Tidak dapat menahan rasa tangisnya lagi, Elia dengan cepat menangis dan memeluk Iris dengan erat. “Akhirnya.... Akhirnya... Aku dapat bertemu denganmu kembali... Akhirnya!” ucapnya sembari menangis dengan kencang.
Iris dan Elia akhirnya berpelukan satu sama lain dibawah hujan yang menyirami mereka di tengah malam. Rasa sakit dan kesepian yang telah lama mereka rasakan akhirnya dapat mereka sudahi dengan pertemuan satu sama lain. Ingatan samar-samar dan kehangatan yang mereka berdua telah nantikan akhirnya terwujudkan pada malam ini.
Setelah beberapa menit memeluk satu sama lain, Iris kemudian melepaskan genggamannya. “Elia... Karena sekarang kita sudah bertemu satu sama lain... Marilah kita memulai cerita yang baru. Cerita dimana kita berdua akan bersama-sama menempuh dunia ini satu sama lain.” Dengan wajah yang penuh dengan harapan, Elia mengangguk dan menggenggam tangan Iris dengan rapat. “Selamanya, kita berdua akan terus bersama untuk selamanya hingga maut memisahkan kita berdua.” Pada saat itu juga, dunia terasa hidup dan hangat kembali bagi mereka berdua, sesuatu yang sudah lama mereka impikan.
Dengan pertemuan tersebut, Iris dan Elia akhirnya berhasil bangkit dari lautan dingin dan gelap yang telah lama menghanyutkan mereka berdua dan kini mereka berdua dapat berlari dan terbang bersama menuju masa depan yang telah menanti mereka.