By : Eltanin
— Pertemuan singkat yang mengubah cara mereka melihat dunia—
Malam ini aku akan mengakhiri semuanya. Pelan-pelan aku langkahkan kakiku menaiki tangga menuju rooftop gedung apartemen tempat tinggalku ini. Sambil berjalan aku terus merenung, “apakah keputusanku ini sudah benar?” Tanpa sadar, aku sudah berada di depan pintu rooftop. Aku menarik napasku dalam-dalam, dengan tekad yang bulat aku membuka pintu itu.
Angin malam menerpa wajahku. Aku mulai berjalan dengan santai mendekati pagar pembatas rooftop dan memanjatnya. Astaga, pikirku, mereka seharusnya membuat pagar lebih tinggi bagaimana kalau ada yang ga sengaja jatuh? Sambil memegang pagar aku mulai mendudukkan diriku di ujung rooftop. Satu dorongan dan aku akan jatuh, mengakhiri hidupku yang sudah tidak ada tujuan. Pikiranku dipenuhi bisik-bisik,
”Hey sedikit lagi kamu akan bertemu mereka loh, masih ragu-ragu? Dasar pengecut’”
”Ayo lompat, kamu hidup atau mati juga ga ada yang peduli, kan?”
Aku ingin menepis pikiran-pikiran itu, memang di lubuk hatiku yang terdalam aku berharap ada yang menahanku untuk tidak melakukan ini. Aah, langit malam ini sangat cerah, Bulan seolah-olah akan menangkapku jika terjatuh. Baru aku memejamkan mata, sebuah suara mengagetkanku,
”Anoo, rencana matinya boleh ditunda dulu?” Ucap suara itu, “sebentar lagi ada hujan meteor loh, aku ga mau dituduh bunuh orang cuma karena ada di waktu yang salah.”
“Hujan meteor?” Ucapku sambil menolehkan kepalaku, dapat kulihat seorang pemuda dan sebuah teropong bintang.
”Iya, hujan meteor Leonids, dengan kecepatan 69.7 km/s. Mau lihat?”
”Tentu? Ah, tapi tolong bantu aku, kakiku mati rasa, haha.”
Pemuda yang belum kuketahui namanya itu, melompati pagar dan membantuku berdiri. Untung pinggiran rooftop tidak terlalu sempit, jadi masih aman kalau mau berbalik badan.
“Kau bisa memanjat pagar sendiri kan?” Tanya pemuda itu yang kubalas dengan anggukan.
Baru aku akan menanyakan namanya, dia sudah berada di balik pagar dan berjalan mendekati teropongnya. Melihatnya sedang mengutak-atik teropongnya, Aku pun mulai memanjat pagar dengan perlahan. Saat aku sudah berdiri di sebelahnya, pemuda itu mengulurkan tangannya. Aku meraihnya dengan perasaan campur aduk,
“Shion(星穏),” ucapnya dengan suara tenang, “Uh, itu namaku,” sambungnya lagi dengan senyum hangat.
“Ah, aku Aria(有空).”
“Sebenarnya, hujan meteornya bisa dilihat mata telanjang loh, aku bawa ini cuma untuk melihat bintang lain.”
”Oh, tadi namanya apa? Leonids? Hujan meteornya dekat dengan rasi Leo ya?”
”Iya, seharusnya sih sudah mulai terlihat—“ Belum selesai Shion berbicara kilatan cahaya mulai terlihat menghiasi langit, satu per satu meteor meluncur dengan kecepatan luar biasa.
“Lihat, itu dia!” serunya dengan antusias.
Benar saja, hujan meteor itu begitu indah. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupku bahwa aku akan menyaksikan keajaiban alam seperti ini.
“Wow,” gumamku takjub.
Sambil tertawa kecil, Shion mulai menjelaskan tentang Leonids, asal usul nama, kapan terlihat, dan sebagainya. Aku hanya mendengar sambil mengangguk pelan, masih terpesona oleh keindahan hujan meteor di depanku. Aku merasa sedikit lebih ringan, seolah beban yang kupikul selama ini mulai terangkat.
“Terima kasih telah menghentikanku tadi,” ucapku memotong pembahasan bintang dari Shion, yang dibalasnya dengan anggukan dan senyuman hangatnya.
Saat itu, aku merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ada harapan untuk hari esok yang lebih baik. Sambil terus mengamati hujan meteor, aku sadar bahwa hidup memang penuh dengan kejadian yang tidak terduga.
“Nee, sekitar sebulan dari sekarang akan ada hujan meteor lagi, tapi saat itu pasti sangat dingin, mau ikut lihat?” tanya Shion.
”Hmm, sebulan lagi, berarti pertengahan Desember? Boleh deh.”
”Yattaa, baiklah nanti tanggalnya aku kabarin lagi, besok sore kesini, ya.” Aku hanya mengangguk sebagai balasan.
Aku tidak berlama-lama di sana, tepat setelah hujan meteornya selesai aku pamit pada Shion. Aku menarik napas dalam-dalam dan merasa lebih siap untuk menghadapi dunia ini sekali lagi, dengan harapan baru di dalam hati.
Seolah-olah aku tidak mencoba bunuh diri semalam, aku bangun dan bersiap-siap untuk sekolah. Rutinitas monoton ini akhirnya akan kulakukan lagi. Sarapan? Sepertinya tidak akan sempat, mungkin aku akan mengunjungi toko roti. Kulihat jam di atas rak sepatu sudah menunjukkan pukul 06.45, sontak saja aku melirik ke foto keluarga disebelahnya.
“Ah bisa telat, Ayah, Ibu, aku berangkat sekarang. Ittekimasu!”
Untung jarak sekolah dan tempat tinggalku tidak terlalu jauh, masih ada waktu untuk membeli roti. Aah, Aku benar-benar harus berterima kasih pada Shion, kalau tidak aku tidak bisa lagi menikmati roti pagi fresh from the oven yang dibuat oleh Bibi penjaga yang ramah. Aku akan ke sini lagi pulang sekolah.
Sesampainya di sekolah, saat melewati papan buletin, aku melihat sebuah poster klub yang menarik perhatianku. Klub Astronomi? Sejak kapan ada klub seperti itu di sini? Ah, akan kusimpan dulu poster ini. Aku lanjut berjalan menuju kelasku di lantai 3.
Yah, hari berlalu cepat, kelas, kelas, makan siang, kelas, tiba-tiba sudah jam pulang sekolah saja. Sesuai janjiku pada Shion aku segera ke rooftop setelah sampai gedung tempat tinggalku. Disana kulihat Shion sudah menungguku, dia sepertinya tidak menyadari kedatanganku. Aku berjalan mengendap-endap dibelakangnya.
”Shion-kun, HALO!”
”UWAA, astaga, Aira?”
”Haha, maaf, oh, ini kroket dari toko roti,” ucapku sambil menyodorkan bungkusan yang mengeluarkan aura panas.
Shion mengambilnya sambil mengangguk. Dengan kroket di tangan masing-masing kami mulai membicarakan rencana kami sebulan lagi, Shion banyak berbicara menjelaskan hal-hal berkaitan. Aku juga menanyakan pendapatnya tentang klub astronomi yang ingin kuikuti di sekolah. Kami juga bertukar kontak. Dari pertemuan kemarin dengan Shion, aku rasa kami akan lebih sering bertemu.