by: Yan Zhihao

Pagi yang cerah tentu bagus untuk memperbaiki suasana hati. Aku berjalan bersama kedua putraku untuk menghirup udara segar. Mereka memiliki jarak umur yang tidak terlalu jauh. Sikap mereka yang dewasa merupakan didikan dari suamiku. Sudah 4 bulan berlalu kami kehilangannya. Kesedihan hati ini tak dapat aku hapus. Entah dosa apa yang aku lakukan sebelumnya hingga Tuhan merenggutnya dari sisiku.

“Nisa? Aku kira tadi aku salah lihat,” ucap seseorang yang terdengar familiar suaranya.

Kutolehkan wajahku menatapnya. Dia adalah kakak perempuanku. Kakak sangat cantik dan terlihat segar hari ini walau dengan keadaan berbadan dua. Seseorang disebelahnya, kakak ipar, berusaha tersenyum padaku. Aku berusaha tidak menatap padanya. Kuusahakan suasana hatiku tidak menjadi buruk.

“Kakak lagi jalan-jalan juga? Anak-anak kakak mana?”

“Lagi sama kakek nenek mereka. Ibu yang minta mereka dibawa ke sana. Trus kakak malah ga dianggap di rumah. Kakak mau sarapan dulu ini, mau ikut?”

Aku menganggukkan kepala. Kupanggil kedua anakku yang sedang duduk di perosotan. Kami berjalan menuju kafe terdekat. Setelah memesan, kakak dan aku kembali melanjukan pembicaraan.

“Kamu gimana kondisinya?” tanya kakak dengan hati-hati.

“Baik. Anak-anak juga baik. Kalau kakak kabarnya gimana?” tanyaku balik.

“Baik juga. Kemarin setelah cek kandungan kakak mau mampir ke rumah kamu dulu.

Kemarin kakak chat kamu, kok ga dibalas?”

Aku tersenyum atas pertanyaan kakak. Tidak tahu jawaban apa yang bisa ku lontarkan agar kakak tidak khawatir.

“Kemarin Nisa ada acara jadi lumayan sibuk. Anak-anak juga sekolah. Nisa pulang sekalian jemput anak udah sore hari. Jadi ga ngecek hp lagi karena mau jam istirahat.”

Kakak memaklumi kegiatanku. Keluargaku tahu semenjak suamiku meninggal aku jarang untuk ikut berkumpul dengan yang lainnya. Aku lebih memfokuskan diri pada pekerjaan dan merawat putra-putraku. Pada saat suamiku meninggal, salah satu teman kerjanya datang padaku. Dia menyampaikan pesan bahwa seniornya, suamiku, adalah orang yang paling baik padanya. Dia bercerita bahwa hidupnya yang susah menjadi lebih indah saat suamiku menjadi satu-satunya teman di tempat kerjanya. Dia menawarkan diri untuk membantuku mengurus hidupku setelah kepergian suamiku. Walau telah menolaknya, tapi dia tetap memaksa, bahkan selalu datang bertamu pada kami. Manusia pada akhirnya pasti akan merasa lelah juga. Baru sekitar 1 bulan, dia kemudian menikah. Mereka kemudian pergi ke kota lain karena pekerjaannya.

Tak terasa waktu berlalu cepat. Kakak dan suaminya pergi duluan. Aku mengajak Rian dan Juan, kedua putraku, pergi ke suatu tempat. Lokasinya berada tidak jauh dari sini. Aku mendapatkannya karena rekomendasi teman lamaku. Hal ini membuat ku penasaran, apakah keinginanku bisa tercapai?

Sampai ditempat, hanya terlihat bangunan rumah biasa. Aku melihat ulang alamat yang tertera pada kartu nama itu. Tertulis alamat yang sudah sesuai dengan keberadaanku ini. Dengan ragu aku mulai mengetuk pintu itu. Tak lama kemudian pintu terbuka.

“Ada yang bisa saya bantu?” ucap lelaki muda yang membukakan pintu. “Maaf, saya mau konsultasi ke Ibu Dian. Apakah beliau ada?”

Dia kemudian mempersilahkan aku masuk. Kedua putraku ikut masuk ke dalam. Kami disajikan beberapa makanan dan minuman. Tak lama seorang wanita paruh baya datang.

“Ada apa gerangan yang membawa anda kesini?”

Kelu lidahku untuk berkata. Sudah berulang kali kupikirkan hal itu sebelum kemari. Rasa sakit ini, entah kenapa membuatku menjadi tidak waras. Aku menunduk. Jemariku mencengkeram erat pangkuanku, sampai persendian terasa ngilu. Tapi rasa sakit itu tak ada artinya dibandingkan yang mencabik di dalam dadaku. Sudah empat bulan sejak dia pergi. Orang-orang bilang itu waktu yang cukup untuk belajar ikhlas. Tapi mereka tak tahu apa-apa. Empat bulan, bagiku, tak lebih dari empat detik tanpa napas. Tanpa hidup.

"Saya... saya ingin bertemu suami saya,"

Aku ingin bertemu suamiku. Itu saja. Aku ingin mendengar suaranya lagi. Aku ingin dia memanggil namaku, seperti dulu. Aku ingin merasakan genggaman tangannya. Setiap malam, aku masih merasakan kehadirannya. Napasnya di tengkukku, sentuhan samar di bahuku. Suara pintu kamar yang berderit pelan, seolah dia baru saja kembali dari luar. Mereka bilang itu halusinasi. Katanya aku mulai kehilangan kewarasan. Tapi mereka tak mengerti. Dia belum pergi. Dia belum boleh pergi.

Aku menggigit bibirku, menahan kata-kata yang terasa terlalu berat untuk diucapkan. Lalu pelan, aku berkata, “Aku tahu dia masih di sini. Aku merasakannya. Dia belum tenang.”

Ibu Dian diam, tapi tatapannya menusuk langsung padaku.

“Kalau anda datang kesini, anda harus siap dengan segala kemungkinan yabg ada. Bisa jadi yang datang nanti bukan suami anda sepenuhnya.”

“Saya tahu itu. Saya akan menerima apapun konsekuensinya,” ucapku dengan penuh

harap.

Pada akhirnya, keinginanku terkabul. Kami dipersilahkan untuk beristirahat di kamar yang kosong. Setelah menutup pintu, Rian akhirnya membuka suara.

“Ibu,” panggilnya dengan sedikit cemas.

“Apakah tidak apa melakukan hal ini? Bagaimana kalau yang Kembali bukan ayah?” Juan yang mendengar hanya menganggukkan kepala, sependapat dengan pemikiran kakaknya.

Aku meminta Rian dan Juan untuk mendekat. Ku belai pucuk kepalanya dengan lembut. Pada saat telapak tanganku berada di pipinya aku berkata, “Kalian ngga mau ketemu ayah lagi, ya?”

Spontan mereka menggelang.

“Bukan begitu, Bu. Kami hanya takut ibu disakiti oleh ayah,” ujar Si Bungsu.