By : Namiame

“ずっとここにいてもいいですか? Bolehkah aku tetap ada di sisimu?”

Sang tuan terdiam lama. Menyesapi lirik tadi yang tak sengaja ia putar lagunya di beranda pemutar musik. Sesuatu di lidahnya terasa aneh. Pun juga isi kepala dan dadanya yang perlahan serasa diremas. Cuma lirik sebaris, namun rasanya ia seperti terikat. Seperti menggoda hatinya untuk mengaminkan larik tersebut.

“Kenapa diam disitu? Mas Sud udah manggil tuh. Stand by gih.”

Suara puan memecahkan ilusi. Membuat kesadarannya kembali ke permukaan. Lelaki itu bangkit dari duduknya. Sempat limbung sedikit sebelum perlahan berjalan ke arah puan.

“Sorry, Ta. Tadi agak ngelamun. Sip, aku kesana ya.” Cinta tersenyum, mengangguk.

Sebutir dua bulir peluh menetes dari pelipisnya. Punggungnya sedikit merunduk. Adegan barusan memang cukup melelahkan bagi sang pemeran utama wanita. Kejar-kejaran geli-geli manja dua sejoli di pinggir pagar beton pembatas laut. Jemarinya sempat mencengkam kecil lengan kemeja si empu. Mendapat tolehan dari Lukas.

“Temenin minum ya habis syuting. Lagi pengen ada temen ngomong,” lirihnya sebelum melangkah gontai ke sebelah kursi tempat tadi tuan bersemayam.

Yang dituju menggumam iya. Sekilas meraba jejak jemari puan. Entah mengapa, Lukas sendiri juga tidak ingat tepatnya kapan, Cinta dan ia jadi lebih sering menyesap Anker Lychee atau sekedar Bintang Zero di bagasi mobil sembari mengamati tenangnya ombak malam. Pelepas penat setelah sehari penuh menjadi pelakon drama romansa fantasi yang tengah naik daun. Kesempatan untuk dapat job di daerah pesisir sama jarangnya dengan kesempatan mereka untuk bisa main di drama yang sama dengan screening yang cukup berdurasi. Sejak masing-masing masih berumur seikat jagung, lampu sorot jadi lebih sering menyinari kepala dibanding sinar matahari. Begitu juga tautan jemari keduanya tiap kali menaiki panggung. Teater musikal, figuran film, iklan produk keluarga, you name it. Tiap ada Cinta, pasti ada Lukas. Maka ketika masing-masing telah debut sebagai aktor dan aktris, tirai panjang seperti memisah kedua tautan jemari. Membelahnya menjadi dua dunia yang dulunya satu. Tapi kini tidak lagi. Dan Lukas memastikan kali ini jemarinya akan tetap terikat erat dengan Cinta. Meski untuk sementara.

Deret lampu jalan menemani laju pelan roda empat. Baik Lukas maupun Cinta memilih hening. Membiarkan cengkerama konyol sedikit putus-putus penyiar radio dan rekannya mengisi ruang remang. Memastikan tidak ada lensa paparazzi maupun monitor kru berada dari jangkauan pandang, Lukas memutuskan untuk berhenti di dekat tebing karang. Deru pendingin mobil berganti suara lembut ombak yang bertemu kaki tebing. Sekali lagi menjadi lagu latar di antara kedua insan.

“Gimana tadi? Kamu gak kecapekan, kan?” Lukas memutuskan untuk bergeming lebih dulu. Disambut lirikan lembut sang puan yang dilanjut menggeleng pelan.

“Aman. Pace-nya tadi emang agak kecepetan cuma gak over kok. Kayak biasanya aja.” Cinta terkekeh kecil. “Justru aku yang harusnya nanya itu ke kamu. Sebelum syuting kamu sempat medical check-up, kan? Terus pas break kamu agak linglung sama sempoyongan gitu. Are you really okay, Lu?”

I’m okay. Hari ini screentime-ku juga lebih sedikit, jadi bisa banyak istirahat. Dokter bilang kondisiku juga oke kok. No need to worry” Bohong. Hari ini sudah tiga kali dia hampir hiperventilasi. Mas Sud—yang ia sempat kontak secara privat—pun sebenanya sudah jauh-jauh hari mewanti agar Lukas baiknya menyerahkan peran second male lead pada aktor lain. Mana mungkin? Sudah bertahun-tahun panggungnya tidak diisi oleh Cinta. Sudah bertahun-tahun tirai panjang itu menggerayangi separuh batinnya. Lalu ia dipaksa berhenti begitu saja setelah asma brengsek sebelum ia menginjak karpet merah itu kambuh lagi? Yang benar saja. Hanya karena paru-parunya secara mendadak memberi sinyal ia akan sekarat bukan berarti ia harus berhenti mengejar Cinta. Jika ia akan mati sebentar lagi, maka biarlah ia berlakon dengan puan untuk terakhir kali.

Anyway, udah lihat komentar fans episode kemarin?” Klik pengait kaleng bir beradu dengan pecahnya ombak. Diikuti suara klik di sebelahnya. Yang dituju meneguk tenang. Lentik bulu matanya menyatu dengan legamnya kanvas angkasa.

“Udah. Heh, benar-benar deh, mereka maunya aku jadi sama kamu. Lucu, ya? Padahal rasanya si ML udah ekstra banget kode sama effort-nya.”

Renyah tawa kecil Cinta terhenti. Lebih seperti terpotong. Karena pemandangan lekukan ombak dengan bayangan bulan di permukaannya kini terhalang sekejap mata. Berganti lengan Lukas yang bersandar di sisi kanan dinding bagasi. Memaksa binar puan berpindah pada milik sang tuan. Sulit menyimpulkan arti tatapan lensa cokelat itu. Sedih? Senang? Atau… geram? Cinta tidak tahu. Tapi pastinya, lelaki itu jarang sekali memasang air muka dengan sejuta arti di dalamnya. Bahkan ketika memakai topeng lakon sekalipun.

“Kamu serius kalau ending-nya mau jadian sama dia?”

Pertanyaan Lukas menggantung. Bukan karena Cinta kehabisan kata-kata karena pertanyaan yang terlampau konyol. Atau karena nada si penanya mengalahkan dingin menusuk angin darat. Lebih karena sesuatu seperti memaku seluruh tubuhnya untuk tetap diam di tempat. Seperti seluruh tekanan gravitasi membuat lidahnya tercekat. Bibirnya sedikit bergetar. Pun juga kaleng bir digenggaman. Dan anehnya, vibrasi itu sampai ke hati kecil seorang gadis yang lama tidak jatuh cinta.

“A-aku…” “Maaf. Aku tahu itu tadi berlebihan. Gak usah dijawab. Toh, role kita di awal udah ditentuin. Ending-nya juga udah ketebak.”

Tunggu. Cinta belum sempat menjawab. Belum sempat menghentikan penanya untuk mengakhiri diskusi. Namun ia sudah terlanjur menenggak habis isi kaleng. Kembali pada Lukas yang selalu tersenyum tipis dengan garis mata yang sedikit menyipit bak bulan sabit. Kembali pada Lukas yang kini dengan sabar menunggu Cinta untuk mengosongkan miliknya. Tapi tetap saja. Ada yang kurang. Ada yang salah. Dan lagi-lagi Cinta tidak tahu mengapa. Kata-kata yang tertahan itu akhirnya puan telan bersamaan dengan aliran bening. Menyisakan tenggorokan yang dibiarkan kering.

“Sumpah, bau-baunya ada yang mati di sini. Like SML-nya bisa “ngedit” timeline. How about si ML yang cuma bisa invisible itu didelete terus you know lah.” “I mean, ML-nya tuh pernah skandal gede kan? Anak emas mah mending ngalah dulu deh.” “Cuma Daun yang cocok sama Arum. ML plin plan begitu mati aja lah. Udah aktornya brengsek karakternya juga brengsek wkwk”