By : Sandy
Suara lembaran kertas mengisi ruangan. Aku membalik halaman novel yang sedang kubaca, mataku menyoroti baris demi baris. Setiap kata pada lembarnya mengisi kehampaan dalam hatiku, membuatku merasa lebih lengkap. Rasanya seperti surga kecil bagiku, perpustakaan yang terletak di pinggir kota ini, dan buku-buku di dalamnya.
Dari balik jendela, langit mulai berubah jingga. Aku menaruh kembali buku yang kupegang ke rak, dan memutuskan untuk pulang. Namun, di tengah perjalanan, rintik air mulai terasa di atas kepalaku.
Aku mulai mempercepat langkahku, berlari menuju tempat teduh. Di bawah kanopi supermarket, aku menatap langit yang suram. Aku menghela nafas berat.
Dari belakangku, muncul seorang pria jangkung berambut perak. Di tangan kirinya kantung plastik putih, di tangan kanannya payung transparan. Kedua mata kami saling bertemu. Aku menatap wajahnya dengan saksama sembari menggali ingatanku karena sosoknya yang familier.
“Oh, halo. Kita tinggal di bangunan yang sama,” ucapnya memecah keheningan. Ah, jadi begitu, pikirku. Pantas saja aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat. “Aku Fukazawa Haruo. Dan kau?” “Kawakami... Suzuka.” “... Nama yang indah, ya. Salam kenal, Kawakami-san.”
Senyum lebar terpancar layaknya mentari dari wajah pria itu, membuatku melupakan hujan yang sedang turun dengan derasnya. Aku merasakan tubuhku mulai menghangat, terutama wajahku. Aku hanya mengangguk seperti orang dungu.
“Erm... Kelihatannya hujan ini tidak akan reda dalam waktu dekat. Bagaimana kalau... kau pulang bersamaku saja? ... Kalau kau tidak keberatan.”
Tiba-tiba sekali! Pikiranku membuncah, menerka-nerka maksud di balik ajakannya. Namun, pada akhirnya, aku hanya spontan mengiyakan.
Langit masih terlihat murung, tak ada tanda-tanda akan kembali cerah. Kala awan tak henti menitikkan air dan membasahi permukaan bumi, aku berjalan di bawah lindungan payung bersama pria yang baru saja kuketahui namanya. Sepanjang perjalanan hingga tiba di apartemen hanya diisi keheningan, otakku terlalu tidak keruan untuk berpikir.
“Sampai bertemu lain kali, Kawakami-san,” ujar Fukazawa sembari menaruh payung di rak, lalu masuk ke apartemennya. Ternyata ia tinggal tepat di bawah kamarku.
Hari demi hari berlalu. Tanpa alasan yang jelas, aku tidak bisa menyingkirkan pria itu dari pikiranku. Sering kali kami berpapasan, dan setiap kalinya diriku merasakan hal yang abnormal. Sorot mata dan senyumnya membuat jantungku berdebar tak terkendali. Ketika tidak sengaja bersentuhan pun, rasanya seperti ada impuls aneh yang sulit kujelaskan.
Suka? Cinta? Setiap orang yang mendengar ceritaku mengatakan hal yang sama. “Mengapa kau tak mengajaknya berpacaran saja?” katanya. Setelah melewati konflik batin yang panjang, aku memutuskan untuk menuruti perkataan mereka.
Pintu kafe terbuka. Aku melirik dari tempatku duduk, mendapati rambut perak berkilau muncul dari kejauhan. Pria itu berjalan mendekat, menatap ke arahku dengan senyuman yang sama yang membuatku menggila.
“Halo, Haruo-kun. Terima kasih sudah mau datang,” ujarku sembari ia menarik kursi. Kami mulai menggunakan nama belakang masing-masing sebagai panggilan, merasa kami sudah cukup akrab untuk itu.
Sembari menunggu kopi, kami mulai berbasa-basi, membicarakan hari-hari kami dan sebagainya. Setelah suasana terasa tepat, aku langsung mengatakan hal terpenting.
“Aku menyukaimu, Haruo-kun. Berpacaranlah denganku.”
Aku menatap Haruo dengan serius, mata kami terkunci sebelum ia mengalihkannya. Aku melihat ekspresi wajahnya menjadi canggung, dan menurutku, itu bukan pertanda baik.
“Aku tidak menyadari kalau kau punya perasaan seperti itu, Suzuka... Maaf, ya.”
Perih. Aku berusaha membendung air mataku. Kupikir ia akan mengerti. Aku mulai mengubah diriku sejak bertemu dengannya. Riasan, pakaian modis, aku bahkan semakin jarang ke perpustakaan demi berpapasan lebih sering dengannya.