by: Rinne

“In truth, I couldn’t care a bit if I died, but I’d be pretty sad if the people around me did.” —Inochi ni Kirawareteiru by Kanzaki Iori source: Vocaloid

“Kamu tidak menangis.”

Aku mendengar suaramu di antara gores pensil yang mengisi ruang hampa. Itu mengiringi dengan derit kursi kepada petak keramik lantai, lantas seraya pula dengan ketuk irama meja. Sejenak, tangan berhenti dengan benak yang menguraikan deret-deret tutur kata. Sebuah aksi-reaksi, seperti kata hukum Newton tiga—atau, apalah. Kamu yang sering berbicara seperti itu. Netra gatal ingin menggeser pandangan, tetapi sejujurnya, aku juga tidak ingin menoleh.

Maka, aku tidak menoleh. Setidaknya, bukan kepadamu. Aku tidak ingin melihatmu.

Jendela beralih menjadi objek berikutnya, barangkali berlagak menjadi tokoh utama dalam cerita-cerita. Lapangan sekolah mengisi dengan sayup-sayup keributan di bawah naungan langit oranye. Beberapa tengah berlari. Beberapa menyerukan skor atas bola yang berhasil dipukul. Ah, aku kembali mengingat mereka yang berada di klub. Aku sudah berkata untuk tak datang hari ini, dan mereka secepat kilat memaklumi. Kendati, aku masih di sini hingga waktu nyaris berakhir.

Kamu tidak menangis.”

Lantas, kamu kembali mengulang, seperti kaset rusak.

“Aku tidak menangis.”

Dan, aku hanya menimpali seperti sebuah rekaman.

Kamu tidak menyerah. “Kenapa?”

“Hanya seperti itu,” kataku. “Seperti itulah apa adanya.”

Ada satu cerita. Cerita yang barangkali akan terdengar di antara bisik-bisik kawanan. Ah, ada seorang anak yang ditinggalkan oleh ibu dan ayahnya. Belia sekali dia, mereka yang di sekitar berduka. Namun, bertahun-tahun telah berlalu, dan dia baik-baik saja.

Aku baik-baik saja. Apapun yang ditinggalkan akan kembali berjalan. Maka demikian, yang seperti itu biarkan saja lewat.

“Apa kamu kecewa?” tanyaku, semata-mata oleh rasa penasaran. “Kalau aku tidak berduka.”

Kamu berduka.”

“Ah, masa?”