by: Sorarira
‘Tuk’
‘Ah…..’ kutatap kepala yang bergulir tak jauh dari kakiku. Seorang pria, 35 tahun mungkin? Rambutnya menyala bagai emas meski mukanya tak seberapa. Sayangnya darah yang keluar dari lehernya mengotori kemewahan kilaunya, dengan mata birunya yang tanpa cahaya gagal menyembunyikan rasa takutnya.
‘huft’ jemu, aku angkat dia dengan celemekku sebelum kulempar dia ke basket di bawah platform bersama dengan mereka lainnya. Sambil duduk seiza kupikir, sesungguhnya belum ada setengah hari, namun gumpalan darah ini sangat menjengkelkan. Aku merasa indraku menjadi tumpul dengan keseharianku ini. Kadang aku iri dengan Lunett, gijinka kacamata yang hanya perlu membantu orang membaca dan menulis. Atau Parapui, gijinka yang dengan topi panjangnya itu memastikan setiap orang di bawahnya tidak terkena hujan.
Tapi bagaimanapun juga aku harus tetap profesional, tugas para Gijinka adalah melayani manusia apapun yang terjadi. Tiga kali sibakan tangan dan menegakkan postur, kututup mataku sejenak sebelum memalingkan badan kepada pak ‘dokter’.
Ia datang dengan pasien baru, seorang anak perempuan tidak lebih dari 15 tahun bermata ruby. Anak itu menatap dadaku yang bolong sebelum menjawab tatapan mataku dengan stabil meski terbebani dengan tali-temali yang membatasi mobilitasnya. ‘Dokter’ pun menggiringnya kepadaku, dan seketika rambut hitamnya nan panjang ia sandarkan di rokku layaknya kucing hitam sialan yang tadi pagi mendatangiku.
‘Ah, sungguh disayangkan’ tanpa berpikir panjang tanganku mendarat di kepalanya, mengurai beberapa kekusutan sembari menatap kembali kepada ‘Dokter’.
“Dia kemungkinan besar memiliki penyakit mematikan yang menular. Gejalanya meliputi kutukan kucing hitam di sekelilingnya, kebiasaan menjauhkan diri dari orang dan gereja, tak lupa ia dengan beraninya membantah orang yang lebih tua. Mata merah dan rambut hitamnya adalah tanda jelas dari penyakit ini” ‘dokter’ menjawab tatapanku tanpa emosi apapun.
‘Penyakit penyihir, sangat original’ pikirku. Akhir-akhir ini banyak yang terjangkit dengan penyakit itu, dan biasanya kanker itu sudah terlambat untuk disembuhkan. Para bangsawan yang sangat cemas dengan kecepatan penyebarannya sampai-sampai membuatkan manual untuk mengetahui gejala-gejalanya.
Yah, bagaimanapun itu bukan aku yang menentukan. Tugasku hanyalah mengayomi mereka sampai waktu yang ditentukan saja. Dan dia tidak ada bedanya.
Kudorong dia hingga ia duduk dengan tegak. Matanya membelalak, ketakutan muncul diantara bara warnanya. Atas perintah ‘dokter’, aku lilitkan lenganku pada lehernya sebelum ia dapat melontarkan sebuah kata, bagai ular yang menerjang mangsanya dan seorang ibu yang menyambut anaknya pulang.
Diantara merah darahnya dia, kupikir setidaknya dia tidak perlu lagi menderita di dunia yang kejam ini.
Pojok Penulis
Secara singkat, Gijinka didunia ini berlaku seperti yokai dibeberapa cerita Jepang. Biasanya kan harus bertahan sampai ratusan tahun sebelum mendapat kewarasan, tapi didunia ini orang menemukan cara untuk "mengimbuhi" barang dengan kesadaran begituu, paling standar kamu berbagi nyawa dengan benda yang kamu imbuhi itu. Jadi disarankan kamu punya partner Gijinka yang mendukung kerjaanmu, contoh kalau kamu jadi penulis, sebaiknya partnermu itu antara pensil, pulpen, atau mesin print (karena eranya masih di zaman 1600 prancis masa la terreur hehe). Nah gijinka ini biasanya mencerminkan kamu juga, kalau kamu ceria kemungkinan besar gijinka mu juga jadi social butterly dan sebaliknya. Tapiiii, ada kejomplangan sosial seperti biasa, cara "pengimbuhan" nyawa ke benda itu sangat mahal (i didn't think very far on how) kecuali natural (ketika momen dimana emosi terlalu berlebihan tumplek ke bendanya, jadi gijinkanya juga ekstrim dalam pengeluaran emosinya) jadiii hanya holang kaya atau rakyat yang mengabdi ke negara yang bisa punya partner. Coba tebak perawat ini Gijinka benda apa?