by : YanZhihao

Pagi hari yang indah. Entah mengapa aku merasa kurang bersemangat saat ini. Aroma yang sudah berubah. Suasana yang sudah berubah. Perubahan yang telah lama dialami, namun perasaan itu masih tetaplah sama. Sore nanti aku dan keluargaku akan pergi ke tempat yang telah lama tidak kami pijaki, rumah dari orang tua ibuku. Dulu aku dan adikku hanya pernah sekali berkunjung kesana. Aku ingat saat itu, ibu yang menggendong adikku dalam pelukannya, dan aku yang digendong oleh ayah.

Karena masih sangat belia, aku tidak paham akan banyaknya rasa sedih, tidak suka, dan rindu itu. Ibu yang sebenarnya saat itu sangat canggung saat berbicara, tatapan mereka pada ayah, beberapa keluarga yang datang saat itu hanya melihat kami. Pertama kalinya aku bertemu dengan keluarga ibuku secara langsung. Selama ini ibu hanya pernah bercerita pada kami. Aku dulu sangat menantikan pertemuan dengan mereka.

“Kakak, ayo makan. Tadi ayah udah panasin gulai ikannya.”

Itu adalah suara adikku, Leo. Umurnya 3 tahun di bawahku. Aku melihat Helena, adik perempuanku, masih menguap dengan kedua tangan memeluk bonekanya. Kemarin aku sudah berjanji pada mereka untuk membantu membacakan buku. Tentu aku ingat dengan janjiku.

Segera aku berdiri dari kasurku. Sedikit meminum air sebelum keluar kamar, itu adalah kebiasaan yang ku ikuti dari ibu. Setelah mencuci muka dan merapikan kasur, aku dan kedua adikku pergi menuju ruang makan. Aroma kuah gulai yang tentu diminati kami semua. Itu adalah masakan yang nenek buat, ibu dari ayahku.

Setelah melihat kedatangan kami, ayah langsung mematikan gas kompor. Gulai ikan yang lezat tersaji di depan mata. Asap panas yang masih mengepul, pertanda masih dalam keadaan panas. Satu-persatu kami menuangkan nasi ke atas piring. Sebelum memulai makan, kami mencicipin buah potong yang ayah beli kemarin.

Tidak lama waktu berjalan, semua makanan di piring kami telah habis. Helena yang pada dasarnya sangat menyukai jeruk, masih berusaha menghabiskan jeruknya. Aku membantu ayah mencuci piring-piring kotor. Selesai membantu ayah, aku dan kedua adikku pergi menuju kamar kosong. Kamar itu adalah tempat Dimana barang-barang milik ibu tersimpan. Baju-baju yang telah lama tidakku lihat. Buku-buku yang dulu sering ibu ceritakan pada kami. Aku masih ingat bagaimana suaranya saat menceritakan itu semua. Bahkan ekspresi karakter yang juga ibu perankan. Saat kami masih tinggal di luar negeri, ibu bekerja sebagai penjual roti. Ibu sangat menyukai roti, apalagi bila memiliki rasa gurih yang dicampur dengan minuman kopi.

Helena dan Leo sudah menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang. Aku yang akan bercerita duduk di depan keduanya.

Buku yang akan ku bacakan pada mereka sebenarnya adalah buku pribadi ibu. Mungkin ini bisa dikatakan sebagai buku yang sengaja ibu tulis dengan jalan cerita yang kami perankan di sana. Bercerita tentang kehidupan ibu dari pertamanya bertemu ayah. Ibu dan ayah dulu adalah teman sekolah. Ibulah yang menyatakan keinginannya menikah dengan ayah. Pada awalnya ayah menolak, tapi dengan menggunakan beberapa alasan akhirnya ayah menyetujuinya. Ayah saat itu merasa bila menikah akan membuatnya menjadi memiliki banyak masalah, apalagi dia tidak memiliki pasangan. Ibu memberi solusi bahwa setelah menikah dia dan ayah akan mengerjakan semua kegiatannya, tidak berbeda dengan sebelum menikah. Ibu tidak akan membebani ayah.

Itu bukanlah pernyataan cinta. Ayah dan ibu yang memang tidak memiliki hubungan romantis sejak awal, mereka berinteraksi selayaknya teman akrab. Sebenarnya pernikahan itu tidak disetujui oleh keluarga ibuku. Karena sifat ibu yang keras kepala, dia dan ayah pada akhirnya menikah juga, walau tanpa keluarga pihak perempuan. Kemurkaan datang dari orang tua ibuku, apalagi ayahnya.

“Kamu ini melawan orang tua. Sudah tidak di restui, masih tetap aja!”

Pertengkaran yang terjadi membuat hubungan ibu dan kedua orang tuanya merenggang. Setelah menikah, ibu ikut ayah keluar negeri. Ibu yang saat itu tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancer tentu merasa kesulitan di sana. Tidak ada teman maupun kenalan. Untung saja beberapa tetangga kami memiliki sifat terbuka pada pendatang seperti kami.

Ayah dan ibu bekerja seperti focus pada kehidupan masing-masing. Pada saat di rumah, ayah dan ibu akan saling bertukar cerita. Tentu saja itu atas inisiatif ibu. Ayah orang yang sangat pendiam, untung ibu paham betul dengan sifat ayah.

Semua hal terasa sama, sampai kehamilan ibu terjadi. Kehamilan pertama yang sangat ditunggu-tunggu. Perasaan yang membuncah tak dapat ditahan lagi. Saat mendengar kabar baik itu, ibu ingin sekali mengabarkan berita ini pada orang tuanya. Karena rasa takut yang besar, ibu hanya memberitakannya pada keluarga ayah.

Selama masa kehamilan, tidak ada hal aneh yang terjadi. Ayah bahkan mendapatkan kenaikan gaji di kantornya. Mungkin memang akan berjalan dengan sangat lancer. Namun, entah mengapa badai menerpa. Ibu keguguran.