by: Namiame
“Gak seret apa minum es kopi aren mulu?”
Sang nona domba hanya terkekeh renyah. Meneguk kembali cairan pekat bak hidup tanpa setitik beban. Setidaknya sebelum air mukanya berubah masam.
“Aku lebih baik seret seharian daripada mati mengenaskan karena tugas review 500 kata plus presentasi tiga hari berturut-turut.”
“Yah, aku paham maksudmu. Tapi hati-hati loh, yang ada nanti kamu malah kena komplikasi gara-gara tensi.”
Lagi-lagi sang nona tidak terlalu menghiraukan. Penyakit yang ia kategorikan sebagai penyakit tante-tante—layaknya figur kambing langsing yang sedari tadi mengintilinya sejak sepatu kets diskonan pasar pagi nona domba menapak lobi kampus (setidaknya wajahnya memang terlampau dewasa dari anak-anak kelas lain)—tidak akan menyerangnya dalam waktu dekat. Semoga saja.
“Jangan salahin aku, ya, kalau kamu beneran masuk RS. Setidaknya kabarin!”
“Buat bawain es kopi aren, kan?”
Kuku-kuku lentik yang baru segar keluar dari reservasi nailart seberang kampus menoyor jidat lima inci nona. Si korban malah membalas tertawa. Sisa sore monoton itu diselingi oleh cengkerama dua puan. Hingga ketika angin malam mulai menggelitik tengkuk nona domba, sadarlah ia sudah saatnya tubuh cungkring itu mengarah pada tempatnya bersemayam. Bertukar sampai jumpa, tak terasa kedua kasut yang agak kebesaran itu mendarat di depan pintu. Mencucukkan kunci, pintu perlahan terbuka. Gelapnya ruangan manyamai corak cakrawala. Tapi nona domba tidak takut—oh, ayolah, umurnya 19 tahun!—justru sebaliknya. Jantungnya berdegup, wajah lelahnya seketika luruh. Tapi tunggu dulu, nona harus bersabar. Maka pergilah ia melepas satu persatu helai yang membalut tubuh. Deru pelan shower dan aroma lavender sabun cair menguar, menyatu dengan bulu-bulu selembut kapas yang dipanen paling pertama. Malam ini seperti purnama yang lalu-lalu, ia mematut lama di depan lemari jati dengan corak rumit, kontras dengan dinding kontrakan dingin putih senada gumpalan bulu nona domba—pemilik kos memang kaya melintir. Mungkin saja beliau adalah salah satu juragan yang bosan lalu gabut membangun kontrakan murah meriah sudah lengkap furniture dan hanya tinggal bawa diri saja. Namun ini bukan cerita tentang pemilik kos yang bahkan nona domba tidak pernah lihat wujudnya. Funfact: nona domba tidak ingat bagaimana ia bisa mengontrak kamar di bangunan yang sebenarnya bisa dibilang sebagai asrama tidak resmi kampus. Dbilang tidak resmi karena pemilik kos memang punya ikatan dengan petinggi elit kampus. Kembali, nona domba tidak terlalu peduli dengan detail sepele tersebut. Yang hanya ada dipikirannya sekarang adalah melanjutkan review presentasi kelas pagi, ritual skincare, dan hal terakhir yang tidak boleh dilewatkan: minum lima macam obat dan memakai lingerie biru dongker sebelum masuk ke alam mimpi. Mengapa minum obat? Katanya syarat masuk kontrakan begitu, sih. Tidak berbahaya, kok. Malah nona domba merasa tidurnya jadi lebih nyenyak dan bangun lebih bugar di esok hari. Lantas ada apa dengan lingerie? Suami saja tidak punya, apalagi pacar?—puh, lagipula, kos ini kan khusus perempuan! Nah, kalau itu nanti saja setelah nona domba terlelap. Sesuatu yang membuat kaki-kaki pendeknya tidak berhenti mengayun saat kelas masih berlangsung.
Tepat setelah seisi bangunan diliputi kelam malam, “ia” perlahan mencuat dari tempatnya bersembunyi. Keberadaanya benar-benar tipis, bahkan deru udara pun tidak akan terdengar acap kali telapak kaki sebesar enam kali telapak nona domba menapak lantai veneer. Perlahan tapi pasti, figurnya kini membayangi tubuh nona yang membelakangi. Nona domba memang sengaja mengambil pose itu, sekaligus menyisakan sedikit ruang di kasurnya yang empuk untuk sang tuan merebahkan diri. Namun “ia” tidak langsung menyambut undangan nona. Moncong tuan mendarat tepat di dekat daun telinga, menghembuskan nafas lembut. Tidak ada respon. Ujung jemarinya kini lanjut menepuk tipis pundak yang terekspos. Nona tidak bergidik. Itu berarti sang puan telah menyelami kolam mimpi. “Check-up” sederhana itu cukup menjadi pembuktian dasar bagi”nya” untuk akhirnya jatuh dalam rengkuhan nona. Tubuh jangkung hampir dua meter dengan lembut membaringkan diri, ikut menyamping. Satu lengannya “ia” pakai untuk merangkul pinggang nona, satunya lagi “ia” pakai untuk menyenderkan kepala. Kalau boleh jujur, nona domba merasa antara ada dan tiada sentuhan afeksi tadi. Namun berkat lingerie yang tidak seprotektif piyama biasa, selimut kedua yang menemani di kubah malam berderai hujan itu terasa cukup hangat. Dan tetaplah mereka saling berbagi hangat hingga dering alarm pagi kos berdengung di seluruh sudut bangunan. Tanda mimpi yang terasa sangat nyata itu harus berakhir ditelan arunika yang malu-malu memancar dari sela tralis jendela.