by: Bunbuk
Biasanya aku tidak suka disuruh-suruh menghadiri acara. Apalagi saat liburan. Siang bolong. Tapi siapa yang tidak suka makan gratis?
Meskipun aku sedang liburan, prospek "makan gratis" terdengar menggiurkan. Entah kenapa. Bahkan ketika secara teknis makanku selalu gratis di rumah. Mungkin psikisku sudah terkondisikan oleh perantauan. Makan gratis—gas. Nyaris Pavlovian. Ibuku juga yang langsung mengiming-imingi supaya aku mau berangkat. Dan ibuku masih membekaliku sebungkus es cincau ini. Padahal aku jelas-jelas berangkat ke undangan pernikahan—di daerah sini, kenduri tanpa es puter merupakan bidat zahir yang amat sesat.
Aku menyeruput sedikit es cincau dengan sedotan bekas bento instan pagi yang kubawa. Aku meringis. Kemanisan. Dingin. Ketiadaan cincaunya membuat mulutku terasa kosong. Pasti sisa cincau yang buat sendiri kemarin. Sudah kubilang adikku harus dijauhkan dari dapur. Namun mungkin ada baiknya memang ibuku membekali es-cincau-coret ini. Entah kenapa tidak ada minuman dingin di hidangan acara. Sepertinya keluarga yang sedang kenduri ini memang suka yang sesat-sesat.
Dan benarlah. Orang lurus mana yang menampilkan biduan menyanyi koplo selama tiga perempat jam penuh tanpa jeda. Entah apa agenda yang mereka tulis di rundown. Sepertinya perdosaan jamai. Aku menoleh kanan-kiri. Di tempat lain, biasanya orang sudah bosan dengan biduan dan mulai berseliweran mengambil makanan untuk yang ketiga kalinya. Mungkin juga ada sejumlah lelaki mesum yang malah menyawerinya uang tunai. Namun bukan itu yang terjadi. Nyaris semuanya duduk manis di deretan kursi warung baso yang disediakan, khusyuk menatap sang biduan yang sejak tadi menyanyi tanpa lelah, seakan-akan biduan itu bidadari turun dari langit.
Kalau memang ada bidadari turun dari langit, biduan ini pasti setan naik dari bumi. Tidak, seleraku tidak konservatif. Biduan itu memang tidak berpakaian sopan, namun berparas menarik? Tidak juga. (Maaf, Tuhan). Hal paling menonjol yang kusadari adalah bedaknya. Lebih tebal dan lebih putih dari dinding Keraton. Agak mirip penari Noh atau Kabuki—tapi kering dari unsur budaya. Suaranya? Agak sulit dideskripsikan. Lagu-lagu Vocaloid biasanya menggunakan instrumen yang ramai dan keras di latar untuk menyembunyikan pindah nada vokalnya yang patah-patah robotik. Biduan ini? Dia menggunakan suara serak kering melengkingnya untuk mengoyak bas sound system jelek yang sepertinya pernah dipakai menghalau pendemo. Untung telingaku jauh dari sound system.
Aku menggelengkan kepala. Sudah cukup bengong di kursi plastik. Daripada membuang waktu mengisi mata dengan dosa lebih baik mengambil lagi capcay dingin yang disajikan di pojok. Mericanya kebanyakan dan membuatku setengah mabuk, namun masih lebih panas lirik koplo tak senonoh yang dibawakan biduan itu. Aku berdiri. Di sampingku seorang bapak-bapak duduk diam tanpa bergerak sekalipun, kaki besarnya menutupi jalan ke samping.
"Permisi, Pak." ujarku pelan standar. Bapak tersebut tidak bergeming sama sekali. Ia dengan fokus menatap sang setan naik dari bumi yang masih bernyanyi. Tatapannya tidak terlihat mesum; malah nyaris menyembah dengan takwa sempurna. Bapak tersebut tak merespon tepukanku di pundaknya.
"Pak? Hei, Pak. Permisi Pak." Sia-sia. Entah apa yang membuatnya trans seperti ini. Antara dia belum pernah melihat setan naik dari bumi atau dia memang mesum. Aku merengut. Bicara tentang mesum, adikku pernah bilang bahwa lelaki mesum seperti ini bagusnya disiram es di kepalanya. Kalau bukan di publik mungkin itu sudah kulakukan. Aku hanya mengangkat kaki tinggi-tinggi, berharap bisa melangkahi saja bapak ini.
Kakiku tersangkut—