by: Menhela

Jika aku boleh memilih, aku ingin terlahir menjadi laki-laki saja.

“Kali ini jangan pikir kau bisa lari!” mendengar teriakan penjual roti itu, justru kupaksa kakiku berlari lebih cepat menaiki dataran yang semakin menanjak. Entah harus kutarik nafasku dulu atau menelan roti ini dulu.

“Perempuan sialan!” memang sialnya aku terlahir sebagai perempuan. Sialnya dunia ini memberi keajaiban tidak berguna hanya pada perempuan. Sialnya perempuan hanya ditakdirkan menjadi budak pembuat anak atau penyihir. Entahlah, setidaknya itu yang selalu aku dengar sedari kecil. Kaki tanganku terasa ngilu setiap melewati aula eksekusi yang penuh dengan potongan-potongan tubuh perempuan penyihir.

Suara teriakan penjual roti itu ditelan perlahan oleh suara angin dan serangga musim panas, aku mendaki pegunungan ini hingga tersisa suara gesekan daun. Gunung ini adalah tempat yang terjauh dari pesisir pantai tempat aku tinggal, jadi seharusnya tempat ini adalah persembunyian paling aman. Sinar matahari yang tadi hanya mengintip dari sela dahan pepohonan, kini membasuhku nyaman. Dihadapanku tersisa ujung tebing yang ditumbuhi sema-semak dengan bunga yang tak biasa.

“Mawar biru?” Gumamku dengan warna-warna mawar yang kubayangkan di balik kelopak mataku, tidak pernah kulihat mawar dengan warna ini. “Aduh!” ternyata aku menggenggam duri-duri kecil saat mencoba memetik bunga ini, duri yang lebih kecil dari mawar biasa justru melukai jemariku lebih dari biasanya.

“Kamu terluka?”

“HAH?!” Astaga, aku bahkan tidak mendengar langkah kaki apapun, tapi perempuan ini sudah berdiri di belakangku.

“Tidak apa-apa, pinjamkan tanganmu.” Suaranya yang lembut bak menyembuhkan jantungku yang hampir berhenti sedetik lalu, tapi tampaknya bukan hanya itu yang sembuh.

“Kamu penyihir?” meskipun bertanya seperti itu, sama sekali tidak ada rasa takut dalam diriku. Menyaksikan cahaya dari ujung jemarinya perlahan memudarkan rasa sakit di jemariku, membuatku tenang.

“Kamu tidak mau ditolong penyihir?” Ia masih tertunduk, melihat jeli telapak tanganku. “Senja pertama di umur 17-ku memberiku kekuatan ini, kalau tidak ada aku sebentar lagi kamu mati konyol hanya karena duri kecil”

“Bunga ini beracun?”

“Tidak, hanya durinya saja,” ucapnya, “tidak ada gunanya cantik jika tidak bisa melindungi diri ya, Mawar ini tangguh juga bukan?”

Aku yang sedari tadi memperhatikan luka di jemariku, menaikkan kepalaku untuk melihat wajahnya, “Sekarang sudah baik-baik saja!” Ucapnya kemudian tersenyum.

Jantungku (seperti) kembali terhenti. Rambut panjangnya terhembus angin. Aku seka di belakang telinganya. Kusisipkan mawar biru. Benar, persis dengan warna matanya. Bagai bertukar pandang dengan tiga permata.

“Manisnya,” ucapnya padaku sambil tertawa kecil “Siapa namamu?”

“Biru…” entahlah apa yang kuucapkan. Aku yang sedari dulu hanya dipanggil “Hei” atau “Sialan” tak mungkin bisa menjawab pertanyaannya. Aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku atau kapan aku dilahirkan. Hanya kubiarkan diriku tenggelam dalam bola matannya.

“Biru? Biru seperti warna bunga ini? Seperti warna lautan itu?” Apapun, apapun pertanyaanmu, jika akan membuat mata itu semakin bersinar indah, akan kujawab.

“Iya.” Akan kujawab meski aku tak bisa berucap lebih dari satu atau dua kata. Tapi  justru aku menyaksikan pupilnya merekah di tengah biru yang berkilau.