by: Rinne
Ada sekelebat ingatan yang mengusik pikiranmu. Tanpa permisi, tanpa tahu pemilik.
Adalah pemuda yang mati menjadi Dewa, Dewa mati jadi pemuda. Kamu lihat perjalanannya di antara abadi, tetapi waktu di ujung berupa pertanda konklusi. “Sejatinya, Dewa tak bisa mati!”—yakinmu salah, barangkali. Lahir dari tragedi, maka lakonnya adalah getir. Kamu di sana ikut jadilah dalang, tetapi barangkali semata simpatisan; bantu ingar-bingar panggung makin meriah. Kamu singgah sembari menanti waktumu kembali, bukanlah elu-elu Penyelamat ataupun Pengubah Takdir. Jadilah begitu Dewa bertikai dengan Anak Manusia, kamu sejatinya tidak memahami.
Atau, kamulah yang tolak pahami? Terus berlari dari realitas yang terjadi?
Ah. Kamu lihat kilas balik kelahirannya. Kembar adalah kutukan; sama seperti ketidaksempurnaanmu atas warna mata yang berbeda. Itu tidak biasa. Tidak biasa yang membawa ketakutan. Maka, satu dipasak menjadi Dewa. Itu belum selesai. Ketakutan yang belum selesai. Maka, satu ikut pula dipasak—untuk membelenggu Dewa dari amarahnya. Lantas, dia—mereka—menjadi tumpu dari tumpukan mayat-mayat berdasar dalih ketidaksempurnaan. Sebagai Anak para Dewa, barangkali. Kamu ikut mendengar bisik-bisik yang melabeli.
Barulah Anak para Dewa datang dan pergi, kamu lihat sang Belenggu yang menjadi protagonis cerita ini. Memupuk rasa bersalah dari timbun makam-makam yang digitnya mulai melebihi hitungan jari, makam-makam yang mengutuk tradisi dalam jerit. Musim gugur lagi-lagi berputar. Satu menjadi sepuluh. Sepuluh menjadi seratus. Seratus menjadi ....
Kamu tidak lagi menghitung. Kamu tolak untuk tahu, sebagai jati diri dari peran pengamat.
Ah, lantas, mengapa kamu di sini?
Sejatinya, kamu tak melakukan apa-apa. Puluh-puluh tahun yang silih-berganti, kamu tak melakukan apa-apa. Bahkan ketika putaran waktu mulaikan pertikaian Anak Manusia yang jadikan bilah Pedang Pusaka menusuk sang Dewa Belenggu, kamu semata hanyalah lihat.
Mengapa aku di sini?
Kamu lihat, lagi. Dunia yang akan runtuh oleh sesembahan yang menembus waktu dan dimensi. Ah, barangkali kamu di sini ikut mati, karena inilah yang menjadi konklusi. Maka, kandas sudah ceritamu, pengamat hingga akhir.
Namun, kamu lihat, lagi. Seret pasang tungkai kakimu mendekati kepada detik-detik akhir Dewa Belenggu. Tubuhnya terkapar di sisi Anak para Dewa, yang akhirnya satu menyuarakan ketenangan bagi keputusasaan Dewa Belenggu selama bertahun-tahun. Meskipun, ini akan berakhir. Kulitnya mulai membusuk. Barangkali adalah pertanda dari ribuan tahun yang telah dilalui dari seorang pemuda yang menjadi Dewa, berakhir kembali melebur jadi tanah—kembali jadi pemuda.
Lantas, kamu mengucapkan pernyataan retoris, “Kamu akan mati.”
Ada tawa lirih yang memecah di antara puing-puing reruntuhan, agaknya bercampur dengan rintih. “Apakah kamu akan membenciku sekarang?”
Kamu tak ingin menyuarakannya; karena telah menahan jiwa Anak para Dewa dari mereka yang mengerti, atas dasar justifikasi kesepian yang menahun—atas dalih rumah yang dia pikir telah tiada. Protagonis cerita ini telah beralih peran menjadi musuh besarnya, karena itulah sang Dewa Belenggu mati mengiringi berakhirnya perbatasan dunia ini. Kamu tak ingin menyuarakannya.
“Aku tidak pernah melakukan apa-apa,” katamu. “Aku tidak akan menyatakan apa-apa.”
“Begitu.”
Lagi-lagi, kamu lihat. Langit-langit memerah, menyamai putaran ekuinoks musim gugur. Menyamai bakung laba-laba merah yang tumbuh dari busuk mayat yang bermukim. Menyamai kubang darah.
“Bila terlahir kembali,” sang Dewa berkata, “apakah kamu akan menemuiku kembali?”