by: Amensum

Dua-puluh-dua dan sebelas orang pada awalnya Ambil sepuluh, lentangkan, lalu ambil hati mereka Tersisa dua-belas, rampas sepuluh diantaranya Ambil dua, satukan, panjanglah selalu usianya

Nona kecil datang merawat luka pemuda Gembiranya ia, sekarang dapat bersahabat Lalu, luluh lantak rumah mereka berdua Api habis membakar tubuh kecil si gadis perawat

Hampir gilalah si pemuda bersedih, berduka lara Pantasnya turut mati juga ia mengikutinya Apa mungkin orang bisa hidup selepas jadi bara? Disimpulkannya bahwa ia belum mati; tidak fana

Air hujan dan panas; tinggi asap dan awan Kemarau akhirnya menjemput angin monsun Umur manusia memang tak bisa dientaskan Matinya tiap cinta, kekasih: jalan yang ia tuntun

Akhirnya, tiga-puluh-dua nyawa terenggut Untuk pertama kalinya, ia kembali berbahagia Tak ada yang lebih segar dari maut

Pojok Penulis:

Gak terinspirasi langsung dari lagu sih, soalnya pas lagi denger lagu tema Touhou Stage 6 "The Centennial Festival for Magical Girls" nemu komen yang ngehubungin lagu itu sama lagu anak-anak "Ten Little Indians", habis itu baru kepikiran buat nulis.

Aku cukup tertarik buat bikin narasi soal seseorang yang abadi dan keterikatannya dengan yang fana, maka jadilah tulisan ini. Tadinya mau dibikin persis kayak Ten Little Indians, di mana setiap baitnya jumlah Indiannya berkurang sampai tidak ada lagi; tapi karena sulit (alias malas) buat bikin sepuluh bait puisi yang sebagian besarnya cuma nyeritain masing-masing pecintanya, kupikir mending disingkat aja jadi empat fase: awal mula keabadian, cinta pertama, hancurnya cintanya yang lain, dan yang abadi ternyata masih fana.

Ada semacam easter egg juga yang kuselipin di sini. Petunjuknya ada di judul dan angka-angka 13 serta 4 wkwk