by: Sandy
Suasana mencekam menyelubungi Miraihama, membuat seisi kota diselimuti ketakutan. Dalam kurun waktu hanya setengah bulan, belasan orang telah dinyatakan hilang. Penyelidikan sejauh ini, baik dari polisi maupun detektif-detektif lainnya, tidak membuahkan hasil apa pun. Korban lenyap tanpa meninggalkan jejak, membuat semua orang kebingungan. Penghuni kota menjadi gelisah, khawatir mereka akan menjadi korban berikutnya.
Sebuah mobil sedan tua melintas di jalan utama. Okada Eishun terus menyetir, matanya benar-benar terfokus pada jalanan. Malam itu, Kepala Agensi Kamiyama mengirim sejumlah detektif untuk menyelidiki kasus orang hilang yang tak kunjung terpecahkan.
Setibanya di tujuan, Eishun dan Akito tidak langsung keluar dari mobil. Mereka hanya mengamati dari dalam, menunggu tanda-tanda munculnya pelaku. Lokasi yang saat ini mereka awasi diduga akan menjadi tempat berikutnya bagi pelaku untuk melancarkan aksinya. Namun, selang beberapa waktu, pelaku itu tak kunjung muncul.
“Okada-san, apakah kau pikir penyelidikan kita menuju ke arah yang salah?”
“Entahlah. Sayangnya, petunjuk yang ada hanya dapat menghasilkan hal seperti ini.”
Ponsel di tangan Eishun berbunyi. Seseorang di sisi lain mengatakan mereka tidak mendapat hasil apa-apa. Diselimuti kekecewaan, Eishun menyalakan mobilnya kembali.
Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Ia melihat sesosok bayangan muncul dan menghilang menuju lorong sempit di depannya.
Tanpa mengatakan apa pun pada rekannya, Eishun bergegas meninggalkan kendaraan untuk mengejar bayangan itu. Di sana, ia mendapati seorang lelaki berpakaian seperti pendeta, berdiri menghadap ke arahnya dengan tersenyum.
“Jangan bergerak!”
Dengan sigap, Eishun mengambil revolver dari pinggangnya, dan menodongkannya ke depan. Namun, lelaki itu sama sekali tidak mengindahkannya. Ia malah membuka mulutnya dan berbicara, sorot mata merendahkan tampak dari pandangannya.
“Sains dan teknologi yang kalian banggakan hanya akan membawa kalian menjauhi kebenaran. Kalian, para domba yang tersesat, tidak akan mampu menguak sosok asli iblis di balik malapetaka ini.”
Eishun terdiam, kebingungan oleh kata-kata lelaki itu.
“Kalau kalian hanya bermain-main seperti ini terus, kalian hanya akan menghalangiku.”
Sebelum Eishun dapat mengatakan sesuatu, lelaki itu langsung menghilang begitu saja, meninggalkan sebuah teka-teki dan misteri baru.
Hembusan angin laut terasa lembut petang itu. Sinar jingga dari cakrawala begitu memanjakan mata. Suara camar dan deburan ombak terdengar samar, bak berbisik di kedua telinga. Dari sebuah gereja di pinggir kota, pemandangan indah itu dapat terlihat dengan jelas.
“Apa kau yakin, Ei-shan?”
“Tidak, tapi petunjuk apa lagi yang kita punya? Orang itu terlihat seperti pendeta, dan ini satu-satunya gereja di kota ini.”
Gereja itu terlihat usang, namun bunga di pekarangannya masih sangat segar. Bagian dalamnya pun sepertinya baru dibersihkan. Seolah-olah seseorang menjaga gereja ini.
“Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?”
Suara feminin terdengar dari balik punggung Eishun dan Akito. Menoleh ke belakang, mereka mendapati seorang wanita berambut pirang dengan pakaian biarawati. Kulit seputih salju, sepasang mata safir dan senyum hangat dari bibirnya membuat kecantikannya bak kesempurnaan ilahi.
“... Halo. Apakah kau biarawati di sini?”
“Bukan, saya hanya seorang suster yang sering berpindah dari satu kota ke kota lain. Kebetulan saya tinggal di sini sebentar karena merasa cukup nyaman.”
“Jadi begitu... Ah, di mana tata kramaku. Namaku Okada Eishun, dan ini rekanku, Yoshinaga Akito. Kami berdua sedang menyelidiki sebuah kasus.”
“Oh, berarti Mr. Okada dan Mr. Yoshinaga adalah detektif? Nama saya Chiara Grace. Kalau ada yang ingin ditanyakan, silakan. Saya akan coba jawab sebisa mungkin.”
Setelah berbincang dengan Suster Chiara, tidak ada informasi berharga yang dapat diperoleh Eishun. Namun, Suster Chiara sempat menyebutkan tentang pendeta mencurigakan yang beberapa hari lalu pernah mengintai gereja ini dari jauh. Kecurigaan Eishun terhadap pendeta itu kian mendekat. Akan tetapi, tidak ada yang dapat ia lakukan karena tidak ada petunjuk lain yang berarti. Ia berasa seperti berputar-putar di jalan buntu.
Satu hal yang telah diketahui dari kasus ini adalah bahwa pelaku melancarkan aksinya pada malam hari. Eishun mengendarai mobilnya melintasi jalanan kota, melihat sekeliling dengan frustrasi.
“Bagaimana cara kita menemukan pendeta gadungan itu?”
“Kenapa kau sebegitunya mencari dia, Ei-shan? Kau pikir dia pelakunya?”
“Maksudku, siapa lagi yang dapat disebut tersangka selain dia?”
“Menurutku, kita harus memikirkan segala kemungkinan, misalnya—“
Seketika, pandangan mereka beralih dari satu sama lain. Yang mereka sadari adalah ada seseorang yang sedang berjalan lambat menuju lorong gelap. Orang-orang saat ini cenderung menghindari malam hari, jadi ini mengundang kecurigaan. Akito menyuruh Eishun berhenti dan mendatangi orang itu.
“Permisi, Tuan, apa yang kau lakukan di sini? Kau mengerti, ‘kan, kalau ini berbahaya?”
“... Hah? Eh... Aku... Ya...”
Ketika diperhatikan dengan saksama, kedua mata pria itu seperti tidak bernyawa. Tubuhnya lesu, dan wajahnya pucat. Orang ini juga tidak dapat diajak bicara dengan benar. Kecurigaan Eishun melibatkan penggunaan metode hipnosis. Kemungkinan, pelaku aslinya sedang menunggu di dalam lorong, jadi Eishun langsung bergegas, meninggalkan Akito di luar bersama pria itu.