by: Nonomosum
Bang Osin, mendiang iparku itu beberapa minggu sebelumnya ditemukan tewas mengambang di sungai. Beberapa bagian tubuhnya hilang, diduga habis dilahap buaya. Meski rumahnya ada di kampung Sejalu, orang mati diterkam buaya bukanlah hal umum di sini (jalu berarti buaya). Aku, istriku, dan beberapa adik-beradiknya duduk-duduk di dalam rumah Bang Osin seusai mengemasi barang isiannya. Harus kami yang mengurusnya karena almarhum hanya tinggal sendiri di rumah kayunya.
Kami pun mulai bercerita tentang kematiannya yang janggal, sampai akhirnya semua orang memintaku untuk bercerita. Aku maklum, sebab rumahkulah yang paling dekat dengan Bang Osin. Sebulan dua bulan terakhir ini anak-anak mertuaku pulang-pergi ke kota, biasanya secara bergiliran, untuk mengawasi mertuaku yang sakit keras. Entah apa akarnya, tapi dirujuk ke dukun terkuat terhebat atau ke dokter terpandai terlihai pun tak nampak juga apa sebab sakitnya. Kebetulan—atau mungkin juga tidak—istriku, si bungsu, pergi menemani ibunya selama sebulan terakhir ini.
Selama itu juga Bang Osin jadi sering main ke rumah, membawa segala macam bualan soal ilmu rahasia yang katanya bisa mengobati ibunya. Aku tidak pandai menolak orang, jadi kuterima saja ia dan ocehannya soal tabib-pendekar zaman dahulu yang pandai mengutuk dan menjagal orang. Menurutnya, arwah tabib-pendekar itu, yang dipanggilnya Kepala Buluh, sedang meminjam tubuh Emak. Konon dengan merasuki orang-orang tua itulah Kepala Buluh bisa hidup selama ratusan tahun, meski hanya berupa roh. Agar rohnya keluar dari tubuh Emak, harus ada penggantinya. Pengganti itu tidak perlu satu tubuh lengkap, bisa juga dikorbankan sebatang jari untuk dihuni oleh Kepala Buluh. Tapi memang makin dekat pengganti itu dengan sebuah badan manusia lengkap, makin lama rohnya bisa tinggal di dalamnya. Semua ini, kata Bang Osin, dilisankan oleh Kepala Buluh sendiri di dalam mimpinya.
Dua tiga hari setelah Bang Osin bertamu dan bercerita panjang lebar tentang mimpinya itu, aku bangun tidur dan menemukan sebuah telinga manusia di dapur. Melihat anting yang terkait pada daun telinganya, aku yakin ini milik Bang Osin. Bergegaslah aku pergi ke rumahnya membawa telinga itu, tak sabar ingin mendengar legenda suku antah-berantah apa lagi yang akan dituturkannya kali ini soal tanggalnya telinga itu. Bang Osin sudah menunggu di teras rumahnya sambil merokok dan minum, dan memanggilku sesampainya aku ke dalam garis pandangnya.
“Ada telinga itu di rumahmu?” tanya Bang Osin.
“Ya, Bang, ada tergeletak di dapurku. Hal apa lagi yang kau perbuat, Bang? Ilmu macam apa lagi ini?”
“Itu kerjanya Kepala Buluh. Katanya dia mau melepas badan Emak kalau aku membantunya mencari wadah baru. Jadi kuirislah telingaku sebagai percobaan, lagi pun Emak juga selalu menyuruhku untuk memotong telinga ini karena tidak pernah kupakai juga,” katanya tertawa.
“Tunggulah, Zis. Sebelum dua minggu ini pasti kudapatkan badan lain sebagai tempat bernaungnya Kepala Buluh, kau tunggu saja. Begitu kau dapat kabar Emak membaik dari Nisa, artinya aku berhasil menemukan wadah itu.”
Bang Osin ini selain pemabuk dan penjudi, ia juga sepertinya terlibat dalam penyebaran dan konsumsi benda-benda itu, jadi keluarganya semua menjauhinya. Ibunya terutama membencinya, yang sedikit banyak bisa kumaklumi, sebab anak sulungnya mencari nafkah dengan benda-benda haram. Hanya Nisa, adik bungsunya, yang masih mau menjaga silaturahmi dengan abang durjananya itu. Karena latar belakangnya inilah aku cenderung tidak percaya dengan hal-hal yang keluar dari mulutnya. Belum lagi akhir-akhir ini dia juga mulai mendalami perdukunan, memang makin tua makin jadi.
“Tapi Bang,” tanyaku lagi, “bagaimana kalau tidak ada badan utuh itu? Demi Allah kulaporkan kalau kau mau membunuh atau mencuri mayat orang, Bang.”
“Santai, Zis, santai. Tidak ada yang bilang kalau badan itu harus badan manusia. Kau pikir selama ini berdiam di mana roh pendekar itu? Di pohon, Zis, di pohon! Tapi karena makin sedikit pohon yang punya kekuatan sihir di sekitar sini—mungkin karena banyak diganti sawit—jadi tidak banyak lagi tempatnya bernaung selain pada binatang atau manusia. Binatang pun makin sedikit yang bisa dia hinggapi—lagi-lagi, mungkin karena sawit.”
“Baiklah Bang, ya sudah. Semakin jauh Nisa darimu, semakin blong juga sepertinya remmu, Bang. Aku cuma takut nanti ada kenapa-kenapa. Begitulah Bang, aku balik lagi, telingamu kusimpan di sini, ya,” kataku berbalik sambil meletakkan bungkusan berisi kediaman sementara pendekar kuno itu di pembatas terasnya.
“Hei, Azis,” seru Bang Osin, “Tidak adakah yang mau kautanyakan?”
Sial betul orang ini, tahu saja isi kepala orang. Tapi tidak begitu mengagetkan juga, mengingat kami sudah berkenalan selama 15 tahun.
“Ya, Bang. Kalau hanya pohon dengan semacam kekuatan sihir dan bintang tertentu saja yang bisa dirasuki Kepala Buluh, kenapa Emak bisa dirasuki? Apa Emak memang betul punya kemampuan seperti itu?”
“Bukannya aku pernah cerita bagaimana Emak bisa berbincang dengan roh leluhurnya dengan perantara tubuhnya sendiri? Bukan pernah juga aku cerita kalau ada kalanya Emak hanya meminta kopi panas dan telur rebus untuk makan, yang kopinya diminum selagi panas hingga lidahnya melepuh, dan telurnya ditelan bulat-bulat dengan kulitnya? Kau sendiri juga tahu seberapa disegani dan ditakutinya Emak di kalangan dukun-dukun, ‘kan? Padahal aku hanya meneruskan wawasannya, tapi terus saja aku dimarahi olehnya, bahkan sampai diusir dari rumah!”
“Ya, Bang, aku tahu.”
“Kalau begitu tahulah juga kau atas jawaban pertanyaanmu sendiri.”