by: Green
Salju turun. Langit malam dipenuhi oleh warna putih. Walau turun salju, warna tanah yang kuinjak bukan putih, melainkan merah. Darah, tangan, kaki, usus, kepala. Hal-hal yang seharusnya ada pada tubuh manusia sekarang berceceran di tanah. Ada juga bau busuk menyengat yang membuat hidungku mati rasa.
Seseorang datang mendekat. Itu Edward, tangan kananku. Dia memberiku hormat sebelum melaporkan situasi terkini, “Lapor, Yang Mulia. Keluarga kaisar dan para bangsawan telah kami amankan. Kekaisaran menyerah tanpa syarat.”
“Bersihkan area ini. Lalu lakukan persiapan, kita akan mengadakan sesi pemakaman singkat.” aku menyarungkan pedang yang ada di tanganku dan melangkah pergi, bergegas merapikan diri serta mengganti baju. Kurasa menghadiri pemakaman dengan baju merah bukanlah hal yang sopan. Warna bajuku memang bukan merah, warna merah ini berasal dari sesuatu yang lain.
“Baik, Yang Mulia.” Edward pergi menuju barak dan menyampaikan instruksiku kepada para prajurit.
Setelah beberapa persiapan, sesi pemakaman dilakukan.
“Perang telah usai. Walaupun kemenangan telah kita dapatkan, ada beberapa rekan-rekan kita yang kehilangan nyawanya sebagai bayaran dari kemenangan ini.” aku mulai melakukan pidato singkat, sembari berjalan ke arah batu nisan.
“Ellington, seorang pahlawan yang lebih mementingkan nyawa rekan-rekannya. Hams, prajurit pemberani yang selalu membela yang lemah dan melawan yang kuat. Kez, seseorang yang jujur dan lurus, selalu membantu orang di sekitarnya. Gratz, prajurit pekerja keras, kerja kerasnya memberiku semangat dalam menghadapi semua tantangan. Tristan, seorang pria ramah yang membuat semua orang tersenyum. Dote…” aku melangkah ke masing-masing batu nisan. Membacakan nama-nama yang tertulis di atasnya.
“Berkat aksi kepahlawanan kalian, kita berhasil memenangkan perang. Kita berhasil merebut ibu kota kekaisaran, Kalte. Nama kalian akan tercatat dalam sejarah sebagai pahlawan perang. Terima kasih, para pahlawan."
“Walau kerajaan kita tidak memiliki agama resmi, tapi aku berdoa kepada dewa manapun yang ada di atas sana. Tolong tuntun para pahlawan yang gugur di perang ini menuju surga dan semoga mereka bisa beristirahat dengan tenang di sana.” aku mengepalkan tangan dan menaruhnya di dada kiriku. Di kerajaan, gestur ini menyimbolkan penghormatan, bisa juga diartikan sebagai cara berdoa.
Pidato singkatku berakhir. Di belakangku, prajurit lain juga mulai melakukan gestur yang sama. Isak tangis dari para prajurit membuat hatiku terasa berat.
Area ini sudah dibersihkan. Tidak ada darah, tidak ada mayat, hanya dataran putih salju. Tidak ada lagi bau yang menyengat, tapi entah mengapa hidungku masih mati rasa. Aku sudah mandi, tidak ada lagi darah di pakaianku, tapi entah mengapa aku masih merasa kotor. Langit malam yang gelap, tidak ada cahaya matahari yang menusuk, tapi entah mengapa mataku terasa tidak nyaman. Perang telah usai, kami menang, tapi tidak ada kebahagian maupun kesenangan yang muncul. ‘Ah, sungguh malam yang dingin dan gelap.’
Perang telah usai. Kerajaan Rand berhasil mengambil alih ibu kota Kekaisaran Herrlich, Kalte. Kekaisaran yang telah berdiri selama ratusan tahun sekarang telah runtuh, terserap menjadi bagian dari Rand. Tidak lama lagi, Rand akan menjadi sebuah kekaisaran.
Perluasan wilayah Rand membuat pekerjaanku semakin menggunung. Sekarang, kantor sementaraku di Kalte dipenuhi oleh dokumen-dokumen, bahkan tumpukan dokumen ini menutupi cahaya matahari untuk masuk.
Setelah sekian lama bekerja, aku berhasil setidaknya mengurus dokumen-dokumen yang selama ini menutupi jendela. Sekarang, aku bisa mendapat sinar matahari lagi. Kulihat di luar, matahari sebentar lagi akan tenggelam, hari sudah sore.
Mungkin karena aku terlalu fokus pada pekerjaanku, aku tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di pojok kantor ini. Di sekelilingnya terdapat kabut hitam tipis. Selain itu, tubuhnya tertutup jubah gelap, dengan tudung terpasang. Dia tidak memakai penutup wajah, tapi ada hal lain yang membuatku tidak bisa melihatnya. Kemunculannya membuatku ingat akan hal yang telah lama kulupakan. ‘Jadi waktuku sudah habis ya.’
“Apa kamu sudah menyelesaikan penyesalanmu?” makhluk itu berbicara. Suaranya tidak terdengar di telinga, tetapi di hati.
Aku meletakkan kembali pena bulu yang selama ini kugunakan untuk bekerja. Aku menggelengkan kepalaku dan berkata, “Sepertinya aku sudah terlalu lama berada di sini, bahkan aku sampai melupakan esensi dari dunia ini. Dunia yang kamu berikan terlalu nyata. Orang-orang yang telah kubunuh, orang-orang yang kukecewakan, dan orang-orang yang kusayangi, mereka semua menjadi penyesalan baru yang harus kutanggung sekarang.”